Kampung Batik Mangrove Semarang (KBMS) mulai diinisiasi KeSEMaT di awal tahun 2012, bekerja sama dengan PT Indonesia Power Jakarta yang mendatangkan trainer dari Zie Batik Semarang, dengan lokasi implementasi di Mangkang Wetan, Semarang.

Mangkang Wetan sengaja dipilih menjadi area percontohan, sehubungan dengan ketersediaan sumber daya alam dan semangat dari warga pesisirnya dalam rangka menyelamatkan pesisir di Semarang, sekaligus berupaya untuk meningkatkan taraf penghidupan dan mata pencaharian mereka.

Program pelatihan dan sosialisasi teknik pembuatan batik mangrove kami dengan merek Batik Bakau yang bekerja sama dengan alumni kami, sudah berhasil dilakukan di awal tahun 2012, sampai dengan satu tahun kemudian.

Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu istri-istri nelayan di Mangkang Wetan agar lebih dapat sejahtera dan dapat hidup berdampingan dengan mangrove di pesisir Semarang.

Beberapa kali, Batik Bakau sudah melakukan pameran ke berbagai acara lingkungan, tak hanya di Semarang, tapi juga luar kota, seperti Jakarta untuk mempromosikan pemanfaatan mangrove sebagai bahan baku pembuatan batik.

Pembuatan media sosial Batik Bakau juga dilakukan sebagai sebuah usaha untuk memperkenalkan Batik Bakau kepada khalayak yang lebih luas lagi, termasuk mengembangkan pemasarannya ke arah yang lebih profesional, dimana masyarakat dapat memesan secara langsung melalui media sosialnya.

Kedepan, akan terus ditingkatkan pola kemitraan dengan berbagai instansi dan organisasi, agar penyebarluasan batik mangrove dapat lebih optimal, demi mengkampanyekan penyelamatan ekosistem mangrove di masa mendatang.

Mbak Jamat, Mas Bamat dan Mbah Sumat
Selanjutnya, dalam rangka diversifikasi produk-produk mangrovenya, pada tanggal 27 September 2017, KeSEMaT resmi meluncurkan tiga produk industri mangrove kreatifnya yang baru, yaitu Mbak Jamat, Mas Bamat dan Mbah Sumat, yang masing-masing adalah kuliner, batik dan suvenir mangrove, yang sepenuhnya dibawah manajemen KeSEMaT .

Mbak Jamat, Mas Bamat dan Mbah Sumat, masing-masing adalah label jajanan, batik dan suvenir mangrove KeSEMaT yang baru. Diusung dengan konsep yang berbeda, tiga produk ini akan membuat konsumen kami lebih punya banyak pilihan, sekaligus akan melengkapi beberapa produk industri mangrove kreatif lainnya, yang sudah dikembangkan sebelumnya.

Khusus untuk Mas Bamat, label ini singkatan dari Batik Mangrove KeSEMaT, yang diproduksi oleh warga binaan kami, yaitu Srikandi Pantura di Mangkang Wetan, Semarang. Saat ini, Mas Bamat sudah berhasil memproduksi batik mangrove skala UMKM yang terjual tak hanya di pasar domestik, namun juga mancanegara.

Dengan pendampingan dari KeSEMaT, Mas Bamat berhasil mengikuti pameran-pameran skala lokal di Semarang hingga nasional di Jakarta, bahkan memberikan pelatihan batik mangrove kepada masyarakat di kawasan pesisir Indonesia. (ADM).