1. Jepara
Selain di Teluk Awur Jepara, yang di tahun 2013 sudah menjadi sebuah Mangrove Education Center (MECoK) Ecopark, sebagai sebuah pusat pendidikan mangrove, yang lebat dengan berbagai macam spesies mangrovenya, kami juga memiliki area konservasi mangrove lainnya, yang dapat ditempuh selama kurang lebih sepuluh menit dari MECoK dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Area konservasi mangrove kami, yang lahannya dimiliki oleh desa setempat itu, terletak di sebuah desa bernama Tanggul Tlare, Jepara, yang awalnya merupakan lahan pertambakan yang kurang produktif. Area konservasi mangrove kami ini, juga tepat berada di depan desa Bulak Lama, yang saat ini sudah tenggelam akibat penebangan mangrove untuk dijadikan pertambakan dengan konsep yang kurang tepat.

Saat tambak sudah tidak produktif lagi, dan warga meninggalkan lahannya, saat itulah mulai terjadi abrasi dan kerusakan lahan, yang mengakibatkan daratan terus tergerus sehingga menenggelamkan pemukiman.

Bersama dengan mitra kerja kami, mulai dari dari tingkat daerah di Jepara hingga nasional, kami telah bekerja sama untuk mencoba mengembalikan kondisi mangrove, dengan harapan bisa kembali ke kondisi semula.

Kami mengajak masyarakat di sekitar tapak dan menjembatani mereka untuk bekerja secara bersama dengan CSR perusahaan, pemerintah daerah setempat dan beberapa lembaga pendanaan tingkat nasional, lainnya.

Program pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove, hingga puluhan ribu bibit, telah kami lakukan bersama dengan kelompok masyarakat dan perangkat desa setempat, yang juga mendapatkan dukungan dan sambutan yang sangat baik dari pemerintah daerah Kabupaten Jepara.

Kami berharap, ke depan, area konservasi mangrove kami di Tanggul Tlare ini, bisa menjadi MECoK kedua, sehingga di masa depan, pesisir di Jepara akan lebih banyak lagi memiliki sabuk hijau mangrove, sebagai upaya untuk menanggulangi bahaya abrasi pantai dan kerusakan pesisir lainya, yang semakin hari semakin mengancam kehidupan masyarakat pesisir di Jepara.

2. Semarang
Mangkang Wetan dan Mangunharjo, adalah dua lokasi di Semarang Mangrove Center (SMC) Jawa Tengah (Jateng) yang kami kembangkan sebagai Sentra Batik Mangrove Semarang (SBMS), Pusat Kopi Mangrove Semarang (PKMS) dan Sentra Jajanan Mangrove Semarang (SJMS) bersama dengan tiga warga binaan kami, yaitu Srikandi Pantura, Arjuna Berdikari dan Bina Citra Karya Wanita.

Sejak tahun 2012, kami sudah menanam hingga ratusan ribu bibit mangrove sebagai bahan baku ketiga olahan produk mangrove non kayu, yang diproduksi oleh warga binaan kami di atas.

Kedepan, kami terus berupaya mengembangkannya dengan optimal, salah satunya dengan konsep ekowisata mangrove yang berbasis ekologi, konservasi dan ekonomi. (ADM).