Penampakan MECoK di tahun 2010.

Mangrove Education Center of KeSEMaT (MECoK) mulai dibangun pada tahun 2003, saat program MANGROVING pertama KeSEMaT dimulai, di Teluk Awur Jepara, Jawa Tengah.

Bekerja sama dengan Wetlands International Indonesia Programme (WI-IP) yang berpusat di Bogor, KeSEMaT mendapatkan bantuan dana untuk merehabiltasi kawasan di pantai Teluk Awur, Jepara dengan program pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove yang tertuang dalam program Mangrove REpLaNT (MR) 2003.

Saat ini, MECoK memiliki total 27 jenis mangrove yang terdiri dari 11 jenis mangrove mayor, 4 jenis mangrove minor dan 12 jenis mangrove asosiasi.

KeSEMaT melakukan pengkayaan spesies dengan cara mendatangkan beberapa jenis mangrove dari Bali, seperti Bruguiera gymnorrhiza yang saat ini bisa berhasil tumbuh dengan baik di kawasan MECoK.

Fauna yang berada di MECoK juga sangat beragam, terdiri atas 38 jenis burung migran, laba-laba, ular, kepiting, keong, ikan gelodok, dan lain sebagainya.

Penampakan MECoK di tahun 2010.

MECoK dipergunakan oleh KeSEMaT sebagai pusat pelatihan, penelitian, penyuluhan dan kampanye mangrovenya kepada para pelajar, mahasiswa, dinas, LSM dan masyarakat umum.

KeSEMaT melakukan program pemeliharaan bibit mangrove yang terkonsep dan terukur, sehingga tingkat keberhasilan penanaman mangrove di MECoK memiliki persentase yang tinggi.

Dengan tingkat keberhasilan penanaman bibit mangrove yang lebih dari 70%, maka KeSEMaT mulai mengadopsi konsep MECoK ke berbagai kawasan mangrove di pesisir Indonesia, dan membagikan keberhasilannya dengan cara menulisnya dalam Buku Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Pesisir Indonesia.

Penampakan MECoK di tahun 2018.

MECoK yang saat ini sudah lebat ditumbuhi dengan pohon-pohon mangrove hingga ketinggian sepuluh meter sejak pertama kali ditanam di tahun 2003 ini, juga pernah mendapatkan perhatian khusus dari JICA Jepang dan telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara sebagai Hutan Kota Jepara, sebagai salah satu keberhasilan KeSEMaT dalam merehabilitasi kawasan pesisir di pantai Teluk Awur, Jepara.

Berkat MECoK, KeSEMaT mendapatkan banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri, yang semakin melengkapi keberhasilan KeSEMaT dalam rangka mewujudkan visi dan misinya, yaitu membantu pemerintah dalam membangun kembali mangrove Indonesia.

Perkembangan MECoK
Tiga buah foto yang diambil oleh Mangrove Map dari citra satelit, mulai dari tahun 2001 hingga 2018 menunjukkan perubahan MECoK yang luar biasa. Artinya, dalam kurun waktu 17 tahun, kita bisa melihat pohon mangrove mulai tumbuh lebat sehingga di tahun ini, MECoK telah menjelma menjadi kawasan vegetasi mangrove alias “hutan” mangrove buatan yang lebat.

Ditemui di Kantor KeSEMaT, Sdr. Ilham Kuncahyo (Presiden) mengungkapkan rasa bangganya melihat fakta keberhasilan KeSEMaT dalam menghijaukan kembali Pantai Teluk Awur Jepara yang dulunya gundul menjadi “hutan” mangrove yang lebat, mengingat usaha yang dijalankan dalam rangka mewujudkannya melibatkan ribuan orang selama kurang lebih 17 tahun ini.

“Tentunya senang, juga bangga, karena MECoK saat ini sudah kembali lebat, dan bisa jadi sarana pendidikan mangrove yang baik kepada masyarakat,” terangnya. “Kedepan, MECoK kami proyeksikan menjadi ekowisata mangrove berbasis edukasi tanpa mengganggu daur hidrologinya,” tambah Presiden.

Selanjutnya, apabila dibandingkan mulai dari tahun 2001, 2010 dan 2018, kondisi MECoK terlihat mengalami penambahan jumlah pohon. Di tahun 2001, terlihat mencolok kawasan gersang mendominasi PantaiTeluk Awur, Jepara yang tentunya berbahaya bagi daratan. Terlihat pula adanya hamparan pasir putih yang diapit oleh vegetasi-mangrove tipis hasil penanaman mangrove, saat itu.

Pada foto kedua (2010), mulai banyak terlihat kawasan hijau hasil dari program penanaman mangrove KeSEMaT yang dilaksanakan setiap tahun secara kontinyu. Nampak jelas, kawasan gersang yang mendominasi di tahun 2001 kini tertutup dengan vegetasi mangrove baru yang berhasil tumbuh baik di pantai yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa.

Foto ketiga (2018) semakin menunjukkan keberhasilan program konservasi mangrove KeSEMaT, dimana sudah lebih dari 99% kawasan MECoK berhasil tertanami dengan pohon mangrove beragam jenis sehingga memulihkan habitatnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2001 luasan vegetasi mangrove di MECoK hanya 0,12 ha, kemudian menjadi 0,48 ha di tahun 2010 dan meningkat 1,31 ha di tahun 2018.

“Dulu, sewaktu saya masih kuliah di tahun 2001, tak saya temui banyak burung yang beterbangan di Teluk Awur dan juga penyu yang bertelur di sekitar MECoK, seperti sekarang” jelas Bpk. Aris Priyono (DK), salah satu pendiri KeSEMaT, sekaligus saksi sejarah berdirinya MECoK.

Keberhasilan KeSEMaT dalam memulihkan kondisi lingkungan di Pantai Teluk Awur inilah yang pada akhirnya diapresiasi dengan banyak penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun demikian, penghargaan bukanlah tujuan utama, melainkan hanya bonus dari sebuah usaha tulus dan ikhlas agar bermanfaat untuk alam dan orang banyak.

“Penghargaan, bagi kami bukanlah tujuan, melainkan bonus,” kata Sdr. Ilham. “Saat ini, kami terus fokus bekerja mempertahankan MECoK kami, dan membantu mitra kerja kami dalam mereplikasi konsep MECoK ke area kerjanya masing-masing. Mohon doanya, ya,” tutupnya. (ADM/IK/BRDA/AP).